Minggu, 15 Desember 2013
sunat
saat itu arum berusia satu setengah tahun. Didekat rumah kami ada tetangga yang di sunat. Raka, Arum dan ibunya sedang sedang ngobrol tentang tentang sesuatuyang tampaknya sangat penting.
Ibu: “Mas raka kalau nanti sdh SD juga disunat”
Raka: “asikk... nanti mas raka mau minta mainan sama uang banyak..!!”
Arum : “dek Arum juga ya... nanti dek Arum juga MAU disunat”
Ibu :“kalau dek Arum itu perempuan, kalau perempuan itu tidak disunat,.. kan tidak punya titit..”
---
---
Arum (mengatakan dg sangat serius):
“dek Arum itu perempuan, punyanya itu awok, gak punya titit... tapi nanti, kalau dek arum udah besar kayak mas Raka, nanti dek Arum punya titit kayak mas raka...!!”
#????
kerja
Setelah 2256 pengantin ditambah lebih dari 1000 job shooting dalam 5 tahun, akhirnya aku benar benar butuh liburan panjang. Aku bosan dan butuh pangalih perhatian.
Fotografi bukanlah pekerjaan seperti pegawai yang berkomitmen untuk “patuh pada atasan” dan dibayar pada hari yang sama dan jumlah yang sama tiap bulan. Seorang fotografer berkarya dan bebas meminta bayaran berapapun atas karyanya. ---Masalahnya, saat karya seni di tuntut untuk memenuhi permintaan pasar, maka kata kata James Bond dalam “Tomorrow Never Dies”-pun berlaku: “Give them what they want!”
Lalu terjadilah permasalahan klasik yang selalu terulang pada seorang seniman T_T ; Saat kulkas harus tetap dingin dan anak umur 4 tahun harus sudah bisa membaca, maka karya sang seniman harus laku dijual. Dan harga berapapun tak masalah asal menghasilkan uang.
Dan karena aku ini penggemar film, maka Jim Carrey memberikan solusi; “Yes Man” katanya. Jadilah Yes Man, bukan No Man!! Raih semua peluang yang mendekatimu maka kau akan mendapatkan jutaan kesempatan untuk membentuk hidupmu!
Untuk kalangan menengah bawah, aku sempat menjadi yang termuda dg omset tertinggi di Pekalongan(mungkin sekarang masih). Aku berada di urutan tiga atau lima, dan yang lain adalah fotografer senior yang sudah memulai karirnya saat aku masih belum disunat. Aku punya tujuh tim yang efektif dan dua tim tambahan. Sementara yang lain hanya punya satu atau dua tim saja.
Setelah lebih dari 5 tahun berjalan tanpa henti, aku mulai kelelahan. Kupikir semua seniman mengalami ini. Lelah, gak mood, gak ada ide.. dan marah. Entah karena apa.
persepsi
Saat aku meninggalkan begitu saja program s2 ku di IRB Sanata Dharma, aku begitu yakin Edam Burger akan sukses besar kalau aku fokus. Mengajar dan menjadi dosen bukan lagi pilihan karena aku terbukti merasa sangat tidak nyaman setelah setengah semester mengajar Pacasila dan Kewarganegaraan. Mungkin aku tidak menguasai materinya, mungkin aku lebih suka bercerita dari pada memberikan materi.
Hanya tiga pertemuan pertama aku tampil memukau. Mahasiswaku melongo mendengar kuliahku dan mereka sangat mengapresiasi apa yang kusampaikan. Sesi tanya jawab jadi ramai bahkan sampai wktu kuliah habis pun masih berlanjut. --Tapi pertemuan2 berikutnya aku kehabisan materi. Terjebak dalam labirin, kahabisan fuel dan akhirnya hanya bisa mengikuti teks book, sama seperti dosen2 lain. Membosankan. Aku benci dosen membosankan dan aku tidak ingn menjadi dosen membosankan.
Edam burger berjalan di tempat. Aku sempat membuka cabang ke-2 tapi tidak sesuai harapanku. Kami punya 1 karyawan tapi kehidupan kami pun tidak lebih baik dari karyawan kami. Dan sementara kami bertahan... Raka mulai mengabarkan kedatangannya.
Dan dia membawa hadiah istimewa untukku.
Raka sangat berbakat
Raka lebih sering diam dibanding Arum. Dalam beberapa hal, tampak arum memang lebih dominan dari raka. Arum lebih perberani, sementara raka cenderung pemalu. Arum lebih banyak bicara dan lebih cekatan dalam bertindak, sementara raka lebih lambat dan pendiam. Aku sangat mengerti keadaannya, karena dia sama seperti aku.
Aku mengerti kenapa ketika diajari membaca dia cenderung menolak. Kenapa ketika disuruh menulis dia cenderung malas malasan dan harus adu argumen dulu dengan ibunya. Raka sama sepetiku, seniman.
Beri dia pensil dan kertas kosong, dan pria kecil ini bisa berjam jam serius mengambar objek2 yang tak mungkin bisa dibentuk oleh anak seusianya. Aku sempat terkagum kagum ketika tiga tahun lalu saat barusia 2,5tahun, raka sudah bisa menggambar doraemon dengan bentuk sempurna, tanpa diajari sedikitpun. Dia hanya mengamati dan tiba2 karya itu terbentuk begitu saja. Arum yang sekarang berusia 3thn lebih, bahkan menggambar bentuk bulat sempurna saja masih belum bisa. Gambar arum tidak pernah berbentuk, hanya coretan.
Walaupun dia ketinggalan membaca dari teman2nya (baik ditempat ngaji atau di PAUD), tapi aku tidak pernah menyuruhnya belajar membaca. Ibunya selalu mengajarinya membaca dan khawatir kalau raka ketinggalan dari teman2nya. Sedangkan aku, selalu membebaskannya ketika menggambar seharian penuhpun.
Raka sama seperti aku, menyukai film. Dia juga paling suka bermain dengan lego sederhana, dan bisa membentuk apa saja dengan itu. Mulai dari robot, pesawat, pistol, sampai yang bahkan takterpikirkan olehku; gangsing. Menciptakan bentuk gangsing dari lego dan dapat berputar sempurna. Entah dapat inspirasi darimana karena aku samasekali tidak pernah mengajarinya. Aku hanya membebaskanya melakukan apa yang dia mau.
yang kau lihat membentuk diri mu
Mungkin kejadiannya adalah apa yang kulihat waktu kecil. Saat itu ibuku kedatangan tamu orang tua muridnya. Ibu ku adalah guru SMA, dan saat itu, menjadi hal umum (dilakukan banyak orang; bukan berarti halal) bagi seorang guru untuk merekomendasikan calon murid di sekolah tempatnya mengajar. Maka ini menjadi bisnis. -----dan saat itu aku masih SD, sedang nonton TV. Ruang TV bersebelahan dengan ruang tamu. Aku melihat sendiri tamu itu membawa banyak sekali makanan yang selama ini aku inginkan. Dari mulai coklat sampai anggur. Jajanan yang aku bahkan belum pernah sekalipun mencicipinya. Sebagai guru dengan penghasilan seadanya dipotong cicilan KPR, ke-2 org tuaku selalu harus berhemat.
“mohon maaf ibu, kami minta tolong pada ibu supaya putri kami ini bisa sekolah di SMA WIRADESA” kata tamu itu dengan menyerahkan amlop. Uang kah itu? Pikirku. Amlop itu sedikit menggembung, jadi kupikir pasti uang. Aku sudah kegirangan, aku bisa minta dibelikan mainan yang selama ini tidak pernah kumiliki. Aku sudah kegirangan karena akan segera menyantap coklat, biskuit coklat, anggur, apel, dan jajanan yang terlihat sangat enak tapi aku tidak tau merk-nya.
“tidak bisa pak, saya tidak melakukan hal semacan ini” jawab ibuku tegas. *LHOO KOK...!!*
Tamu itu mencoba merayu, dan terus merayu tapi ibuku sangat keras kepala sampai akhirnya tamu itu pergi. “ini oleh2nya buat ibu” kata si tamu. ----“ ASIKK YESS!!!” Seruku dalam hati.
“maaf pak, dibawa saja” kata ibuku. -----“WADUH....!!!##*%” asem, apes aku.. gak jadi makan enak.
Dan begitulah.. itu bukan satu2nya kejadian. Pada musim penerimaan siswa baru selalu saja ada yg datang, tapi ibu selalu menolaknya. ---aku tidak ingat berapa gaji ibu dan bapakku per bulan, tapi bisa kupastikan kami sekeluarga hidup hanya degan gaji bulanan itu. Orang tuaku tidak mau sekalipun mengotori anak2nya, juga tidak berminat menjilat bokong atasannya. Dan itu menjadi kebiasaanku hingga sekarang.
Kebiasaan mencuri di masyarakat Islam-jawa telah dihalalkan dan dijadikan ibadah rutin. Dilakukan oleh semua orang dan mereka akan menyingkirkan para pahlawan yang cukup berani mengkiritik mereka. Bapakku, adalah seorang guru SD, dijauhi selama bertahun2 dan dipensiunkan tepat 3bulan sebelum usia pensiunnya karena berani bicara tentang kebenaran. Pensiun sebelum usia pensiun artinya tidak mendapat pensiun.
Bapak
Saat itu aku SMA. “bapak tidak berangkat lagi” kata ibuku. Bapak sibuk menciptakan program lagu baru dan mulai jarang berangkat mengajar. Ini sudah terjadi cukup lama. Puncaknya adalah ketika Bapak bersitegang hebat dengan kepala sekolahnya. Bapak ku adalah satu2nya yang berani melawan si Buaya sementara yang lain memilih untuk menjilatinya. Orang yang terlalu risih melihat korupsi didepan mata dan satu2nya yang berani berbicara kebenaran. Karena itulah dia disingkirkan.
Bapak adalah PNS guru agama SD, tapi juga seorang seniman sejati. Bakatnya yang luar biasa dibidang musik, seni lukis dan fotografi mungkin adalah yang terbaik dipekalongan. Sejak aku masih belum lahir, dia adalah seorang penyiar radio. Sekitar tahun 85-an dia menjadi yang teratas di pekalongan. RCS, radio tempatnya bekerja mempercayakan semua program siaran pada kreativitasnya. Dia sendiri punya program favorit dan paling menguntungkan saat itu yang bahkan di puji sampai tingkat Jawa Tengah. Di program itu dia memainkan dua karakter berbeda yang membawakan obrolan2 ringan.
Dipuncak suksesnya bapak bosan dengan karirnya dan mulai beralih kegiatan. Saat itu sampai si owner RCS sendiri yang memohon berkali2 pada nya untuk tetap tinggal. Menawarkan bayaran berkali lipat dan jam kerja yang jauh lebih fleksibel. Tapi, bapak tetap menolak.
Lepas dari RCS, aku tidak ingat tahun berapa saat itu tapi mulai terkenal lagi dengan membawakan spot iklan untuk bioskop2 di seputar pekalongan. Seingatku bahkan semua bioskop di Tegal-Pemalang-Pekalongan-Batang adalah langganan bapak bertahun2. Aku selalu mengingat masa2 itu karena au sering sekali mendapat tiket gratis, terutama di Athrium Theater 21. Selain itu, bapak juga mulai memotret.
Mungkin saat itu aku masih SD atau SMP. Bapak mulai iseng memotret. Lalu dalam waktu singkat dia mendapat banyak job untuk pernikahan. Aku sering diajak motret dan disuruh mencetak film di laboratorium cetak. Di lab itu aku bertemu dengan banyak fotografer senior dan di situ aku menyadari bahwa hasil foto bapak berbeda. Bapak adalah pemain baru, tetapi hasil karyanya selalu menjadi perhatian fotografer lain. Tiap kali foto bapak keluar dari mesin cetak selalu saja jadi pusat perhatian, dilihat oleh banyak orang. Setelah memotret sendiri, sekarang aku baru mengerti betul kenapa dulu foto bapak begitu menjadi perhatian. Teknik pencahayaan bapak, bahkan sampai sekarang, masih sepuluh kali lebih maju dibanding kebanyakan fotografer pekalongan.
Hasil foto yang tiada bandingan membuatnya menjadi rebutan rias pengantin. Order foto datang begitu banyak sampai membuatnya sangat kewalahan. Lalu di puncak karirnya lagi, bapak mulai bosan dan memilih berganti profesi. Seniman tetaplah seniman, dan aku memaklumi itu karena aku juga merasakannya sekarang.
Dulu saat muda bapakku pernah menjadi penyanyi solo gitar terbaik se-Jateng di semacam acara ajang penyanyi lokal. Mungkin musik kembali menggelitiknya untuk bermail, jadi bapak membeli Roland EM 2000 dan mulai memprogram lagu. Dia mulai tertarik dg profesi sebagai player organ tunggal. Dan benar juga, tidak lama job musik mulai berdatangan dan membuatnya sibuk. Dia adalah tipe musisi yang perfeksionis walau dalam bisnis lokal di pekalongan ini hal itu tidak lah penting.
Sampai akhirnya, musik itulah yang dijadikannya alasan. Jawaban yang paling dapat diterima oleh orang2 disekitarnya. Keluar dari PNS karena musik, terasa lebih masuk akal, dari pada menceritakan masalah2 sepele seperti ibadah rutin korupsi berjamaah.
Langganan:
Komentar (Atom)