Minggu, 15 Desember 2013

persepsi


Saat aku meninggalkan begitu saja program s2 ku di IRB Sanata Dharma, aku begitu yakin Edam Burger akan sukses besar kalau aku fokus. Mengajar dan menjadi dosen bukan lagi pilihan karena aku terbukti merasa sangat tidak nyaman setelah setengah semester mengajar Pacasila dan Kewarganegaraan. Mungkin aku tidak menguasai materinya, mungkin aku lebih suka bercerita dari pada memberikan materi.
Hanya tiga pertemuan pertama aku tampil memukau. Mahasiswaku melongo mendengar kuliahku dan mereka sangat mengapresiasi apa yang kusampaikan. Sesi tanya jawab jadi ramai bahkan sampai wktu kuliah habis pun masih berlanjut.    --Tapi pertemuan2 berikutnya aku kehabisan materi. Terjebak dalam labirin, kahabisan fuel dan akhirnya hanya bisa mengikuti teks book, sama seperti dosen2 lain. Membosankan. Aku benci dosen membosankan dan aku tidak ingn menjadi dosen membosankan.
Edam burger berjalan di tempat. Aku sempat membuka cabang ke-2 tapi tidak sesuai harapanku. Kami punya 1 karyawan tapi kehidupan kami pun tidak lebih baik dari karyawan kami. Dan sementara kami bertahan... Raka mulai mengabarkan kedatangannya.
Dan dia membawa hadiah istimewa untukku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar