Rabu, 15 Juli 2015

Motret Tahun Pertama



Masih terus mas, desa paling ujung--- kata bapak2 yg kutanya di tengah hutan pinus. Dia satu satunya orang yg kutemui setelah memacu motor vega ku cukup lama, sendirian di area hutan pinus membawa celurit dan seikat besar rumput.  Aku  sudah melalui beberapa desa. Naik turun diperbukitan dan jalan aspal yg sempit. Kadang aku berhenti sejenak menikmati pemandangan yg tidak setiap hari kutemui.

Setiap kali orang ku tanya selalu bilang kalau lokasinya masih jauh. Dan kali ini aku agak khawatir karena tidak ada lagi orang yg kutemui, sampai aku melihat bapak itu. sendirian berjalan di hutan memikul seikat besar rumput untuk ternaknya.

Lokasi pengantin kali ini cukup jauh. Aku sempat berfikir suatu saat aku akan backpaking ke tempat seperti ini. Tapi segera kutepis pikiran itu. ini adalah tahun pertamaku memotret pengantin. Jalanku masih panjang untuk bisa melakukan segala hal yg kuinginkan. Aku bahkan belum menyelesaikan separuh dari tanggung jawabku.

Tahun pertama selalu menjadi yg tersulit untuk segala hal. Meski aku mulai menemukan bahwa memotret adalah bakat lahir ku. Namun tawaran yg datang selalu membuatku harus bekerja jauh lebih keras. Lokasi yg jauh dan terpencil. Harga yg murah. Dan apresiasi yg sangat kurang  akhirnya membuatku belajar bahwa untuk menjadi sukses, bakat saja tidak cukup.
Hal pertama yg harus dimiliki adalah  sikap.

Bagaimana bersikap. Bereaksi ketika ada kesempatan yg datang. Cara menjawab pertanyaan. Sikap tubuh. Nada bicara. Dan bagaimana selalu bertahan pada sikap yg positif walau suasana sedang tidak menguntungkan, itulah yg menentukan keberhasilan.

Dan mempertahankan sikap yg baik ini sangat sangat sangat sangat sulit. Memiliki sikap yg baik, sikap yg positif, mungkin bisa dilakukan siapapun dan ini cukup mudah. Tapi mempertahankannya adalah urusan lain. Karena itu, aku akhirnya menyimpulkan bahwa sukses adalah kumpulan dari banyak sekali  waktu yg dihabiskan untuk mempertahankan sikap positif.

Minggu, 12 Juli 2015

Pikiran Yang Terganggu (lagi)

Dulu kenapa ya, Burger tidak laris? Aku berjualan burger tahun 2007 di 2 tempat di Jogja. Tidak laris jadi selalu berpindah pindah. Mungkin ada 3-4kali berpindah. Tapi kenapa ya bisa tidak laris..?
Pertanyaan itu sempat menggangguku cukup lama, sampai aku menyadari bahwa jarang sekali ada burger kali lima yang laris. Usaha berjualan burger kaki lima yang kulihat ‘cukup’ diminati pembeli hanya yang berada di tempat dengan sewa booth sangat mahal. Ditambah tampilan stand yang harus menarik dan itu menjadikannya sangat mahal.

Sampai sekarang ini, ada berapa ya usaha burger kaki lima yang bertahan? Berapa lama mereka bertahan? Sampai sekarang aku selalu bertanya tanya kapan sebuah bisnis layak untuk dipertahankan atau sudah saatnya ditinggalkan. Paling enak memang menjadi pegawai dan karyawan. Tinggal ikuti atasan sambil pasang wajah sumringah, maka hidup akan terjamin. 


Aku sejak kecil juga selalu berpikir untuk menjadi pegawai. Aku berdoa agar menjadi seorang yang cakap, pintar, selalu menurut pada atasan dan jadi orang kepercayaan. Aku sebagai anak sekolahan yang kadang berprestasi memimpikan memakai sepatu bagus, kemeja mahal, kendaraan dinas yang dibiayai rakyat yang bisa kubawa kemana mana dan kupamerkan sesukaku. Yang kalau rusak tidak perlu memusingkan biaya perbaikan. Aku becita cita punya kantor yang sangat besar. Berangkat pagi pulang siang. Santai di rumah. Santai di kantor. Hmm.. impian yang mahal.


Tapi ternyata aku tidak menjadi seperti itu. Setelah masa kanak2ku berakhir aku malah diberikan pemikiran yang aneh oleh sang pencipta. Pemikiran yang menyebalkan. Yang membuatku sebal luar biasa kalau melihat berita berita di TV. Yang membuatku merasa sangat heran ketika orang orang berpikir bahwa sang jenderal begitu terhormat sedangan aku justru memandangnya sangat rendah.


Hidup dengan pemikiran seperti ini, di masa ini, di negara ini benar benar sangat mengganggu. 


ketikan tanggal 29 jan 2014 jam 00:23

Jaminan

Mak suji adalah teman nenek. Beliau sempat bertanya padaku waktu itu:
Mk suji: “kamu jadi pegawai di mana nak?”
Eka: “saya bukan pegawai mbah, hanya motret pengantin”
Mk suji (kaget) : “lho kok gak jadi pegawau?! Keluargamu kan semuanya pegawai! (orang tua, pakde, bude, saudara dan sepupuku semuanya tak terkecuali adalah PNS). Padahal enak kalau jadi pegawai terjamin hidupnya, rumah sakit gak bayar, nanti tua bisa santai2 karena dapat pensiun”
Eka: “tapi saya juga sama kok mbah, meski bukan pegawai saya juga dapat pensiun kalau tua nanti, kalau di rumah sakit saya juga gak bayar. Jaman sekarang ini beda lho mbah, tidak seperti dulu lagi”
mak Suji bingung sambil tertawa terbatuk-batuk. 


Bagi mak suji dan banyak orang seperti Mak Suji, hanya PNS-lah satu2nya profesi yang menjamin hidup seseorang. Bahkan PNS lebih “menjamin” di banding Tuhan sang-“penjamin” segala hal. Karena itu dana sogokan merapa-pun akan di halal kan demi kesempatan akan keterjaminan hidup. Sementara Tuhan hanyalah berperan sebagai solusi cadangan, kamuflase, kambing hitam.


Inilah masa dimana yang haram dijadikan ibadah harian, lalu semua orang bebas memanfaatkan nama besar Allah untuk dijadikan pembenaran

MEJA (based on true story)

Sebuah meja terlempar menghantam jendela kayu. Suaranya menggema keras mengagetkan seluruh murid dan guru SDN.barabara. Dari dalam ruangan kepsek terdengar dua orang saling menggertak. Ini adalah kejadian paling hebat yang pernah terjadi di sdn.barabara. Disaat seorang guru SD biasa memberanikan diri melawan atasannya, sang tikus raksasa yang punya seribu teman di pemerintahan.

----

Pak kuntul akhirnya berhasil menjadi kepala sekolah di sdn barabara kec. alaskerto. Laki laki hitam gendut ini meski tampangnya mirip tikus got ternyata moralnya jauh lebih rendah dari tikus got, walau dia sangat lihai kongkalikong dg atasannya. Otaknya yg encer di padu dengan mental tikusnya berhasil membawa semua proyek dinas pendidikan masuk ke sekolah yang di pimpimnya. Tapi tentusaja, namanya juga tikus, dia langsung memanipulasi anggaran. Sebut saja cat tembok yang seharusnya ber merk “eksekutif” di ganti jadi merk “madeincina”. Selisih harga yg sangat besar di kali ratusan kaleng masuk tanpa sisa ke perut buncit pak kuntul.

Tidak ada yang berani bicara. Semua guru diam takut pada pak kuntul. Mereka takut kehilangan penghasilan dan kemapanannya. Karena bagi mereka hanya pada pak kuntul lah mereka menyandarkan nasibnya. Pak kuntul lah yang tiap bulan memberi mereka gaji dan beras. Jadi mereka rajin beribadah pada pak kuntul, dengan cara tersenyum manis padanya. Ini dilakukan rutin setiap hari. Minimal 5kali sehari.
Nah anehnya mereka juga beribadah dengan cara lain. Pada Tuhan lain. Ini dilakukan minimal 5kali sehari juga. Kadang ditambah tengah malam atau jam 9pagi. Mereka bilang yang ini juga harus dilakukan karena semua orang juga melakukannya. Jadi ya terpaksa ikut ikutan supaya terlihat normal. Herannya, mereka menolak jika disebut manyembah dua Tuhan.

Keadaan normal dan damai ini membuat pak kuntul semakin berani memainkan keahliannya. Dia ambil semua yang tampak di depan hidungnya meski perutnya sudah terlalu penuh. Tradisi masyarakat beragama ini semakin memuluskan jalan menelan segalanya tanpa halangan sedikitpun.
Hanya saja, ada satu ganjalan kecil.. Satu orang. Bukan siapa-siapa. Hanya seorang guru biasa yang tetap berdiri ditempatnya. Guru ini tidak berbuat, tetapi tidak juga berlutut. Dia hanya memandang lurus kearah pak kuntul tanpa sedikitpun mau menundukkan kepala.

----

“BRAAKKK.....!!”
Pak kuntul menggebrak meja dengan keras. Mencoba mengintimidasi pria di depannya. Sejak awal pak kuntul memang tidak pernah suka dengan pria ini. Satu satunya yang tidak pernah mau tunduk padanya. Saat semua guru patuh dan taat, hanya satu orang ini yang tidak mau menyerahkan nasibnya pada pak kuntul. Bodoh sekali dia ini. Padahal segala ujian berat sudah diberikan oleh pak kuntul, seperti tingkat golongan yang tidak pernah dinaikkan padahal sudah 25tahun masa kerja, atau pengajuan pinjaman yang tidak di tandatangani padalah belum pernah mengajukan pinjaman. Tapi pria ini dengan santainya tetap memilih menjadi bodoh dan menolak untuk ikut-ikutan bartindak ‘pintar’.

Dan tiba tiba siang itu di musim hujan akhir tahun, Pak kuntul yang sudah geram sejak lama jadi meluap amarahnya, ketika si guru tidak taat menanyakan dana bantuan guru yang turun bulan lalu. Sebelumnya tidak pernah ada yang berani protes ketika sang kepsek berkali kali memotong dana bantuan.

“ANDA PIKIR ANDA INI SIAPA...?!! APA ANDA TIDAK SADAR SIAPA SAYA, HAH.. !?!” bentak pak kultul sembari menggebrak meja. Tidak ada yang pernah berani melawan tikus raksasa. Kata katanya adalah sabda bagi pada bawahannya, apalagi bentakannya, pasti dijamin akan membuat semua orang terkencing kencing.

“tidak perlu menggebrak meja begitu, pak” kata si guru dengan santai. “bu wilma bendahara meminta saya untuk menanyakan hal ini pada bapak, karena teman teman guru mengira bu wilma yang pegang dana itu, dan dia tidak berani bertanya sendiri pada bapak. “ tambah nya.

“.......!!!” pak kuntul marah bukan kepalang. Tidak pernah ada yang bertanya secara langsung seperti ini. Apalagi si bodoh ini bertanya dengan santainya tanpa beban.
“maaf lho pak, saya tidak bermaksud mencampuri urusan antara bapak dengan bu wilma, tapi sudah sejak seminggu lalu sebenarnya bu wilma memohon pada saya supaya menanyakan hal ini..” tambah guru itu lagi.
BRAAAKKKKK...!!! pak kuntul berdiri dan menggebrak meja lebih keras.

“LALU SEKARANG KAMU MAU APAA...HAAHHH!!!!” semprotnya sambil mengarahkan telunjuk ke muka si guru.

Tiba tiba air muka guru ini berubah. Tanpa menunjukkan ketakutan sedikitpun dia ikut berdiri dan mendekatkan wajahnya ke pak kuntul.
“saya sudah bilang bapak tidak perlu menggebrak meja seperti itu pak.” Katanya. Nada sopan si guru sudah hilang. “kalau ingin membuat saya takut, HARUSNYA BAPAK MELAKUKAN INI...!!” katanya sambil melempar meja pak kuntul hingga terbalik.

Sang kepala sekolah tidak menduga hal ini. Tanpa di sadari dia sudah gemetaran. Pria dihadapannya yang sedari tadi selalu bersuara rendah ini membentak dan membuatnya terkencing kencing. Nyali pak kuntul menciut, tak pernah menduga akan menghadapi hal seperti ini. Dia hanya melonggo gemetaran.
Untuk sesaat, tikus raksasa ini mengkerut menjadi tikus got

------

Seorang bapak menceritakan pengalamannya hampir adu jotos dengan kepala sekolah pada anaknya. Sang anak yang baru masuk SMP mendengarkan dengan tertawa tawa. Tanpa disadari cerita kecil ini mempengaruhi pemahamannya di tahun tahun berikutnya. Pemahaman yang membuatnya dianggap aneh oleh masyarakat disekitarnya.

Pada akhirnya sang kepsek memang membuat si bapak dikucilkan selama bertahun tahun oleh teman temannya. Dianggap kambing congek, tidak nyaman, akhirnya tidak pernah berangkat dan memutuskan melepas status PNS-nya tanpa pensiun. Semua kerabat menyayangkan hal itu, tapi si bapak justru seolah merasa terbebas dari belenggu yang selama ini mencengkramnya.

(tulisan bln feb 2014)

Toko on Line

Ternyata lumayan juga ya toko online. Kupikir tadinya aku harus menyempurnakan penampilannya dulu luar dalam, buka web, twitter, mengisinya dengan banyak produk dan memberikan respon langsung. Tapi ternyata tak seburuk itu. Semua berjalan dengan sendirinya walau tersendat sendat di awal. Walau berkali2 harus bilang maaf pada konsumen. Walau selalu telat merespon..

Hmm, memang tidak perlu sewa toko, tidak perlu punya produk, tidak perlu modal besar.. mungkin memang begitu dan itu bisa jadi benar. Tapi bagaimanapun, untungnya sebagian produkku adalah produksi sendiri sehingga harga bisa ku tekan dan aku jadi punya penawaran yang lebih bagus untuk konsumen. Modal walau tidak sebesar toko Offline, tapi setidaknya aku tidak perlu sewa toko.

Baiklah, web segera menyusul, twitter juga, sementara ini dilengkapi dulu katalognya.
12 maret 2014

PENGEMIS

“Tujuhpuluh ribu bu kaji” kata wanita itu dalam bhs jawa halus. Dia belum terlalu tua, mungkin 40thn, masih sehat dan bugar. Badannya lusuh dengan baju yg sobek2. Uang recehan dan ribuan disodorkannya utk di tukar dan nenekku memberikan selembar limapuluh ribu dan selembar duapuluh ribu. Dia memasukkanya ke tas besar yg dibawanya, sekilas kulihat ada baju yg lebih bagus di situ.
Setelah itu dia memesan nasi gulai, es teh manis dan dua gorengan tempe sekaligus. Sedikit lebih mahal dari makelar motor yg duduk disampingnya. Makelar itu berpakaian rapi tapi hanya makan nasi dg tempe dan kuah opor.

“berangkat jam berapa bu tadi?” tanyaku
“jam sepuluh mas”
“lo, kok gak pagi sekalian” tanyaku lagi sambil melihat jam, pukul 14.30
“ yo gak to mas, ramainya jam sepuluh ke atas”
Oh iya, bodohnya aku, mana ada pengemis sebelum jam 10.


Setiap jam 2-3 sore beberapa pengemis selalu menjadi langganan menukar uang di warung nenekku. Mereka beroperasi dari jam 10 pagi sampai jam 3sore. Penghasilan yg di dapat sktar 70-90rb, paling kecil masih diatas 50ribu. Hanya dalam wkt 5jam.


Tahun 2006 saat aku jualan burger di emperan Mandala Krida sehari aku dapat 20-40ribu paling bnyak. Dari jam 9pagi sampai jam 11malam

Rencana

“aku akan jadi fotografer”
Itu yg kukatakan padanya setelah seharian tidak ada pembeli. Kami di trotoar mandala krida. Suasana jalan ramai tapi belum ada yg mampir ke lapak kami. Aku telah memutuskan untuk meninggalkan S2 ku di IRB Sanata Dharma karena harus fokus pada usaha burgerku yg tak juga berkembang. Sayangnya setelah aku mencurahkan semuanya disini pun usaha ini masih merangkak ditempat.

“emg sampeyan bisa motret?”
“kalo yg digital sih belum, tapi kan dasar2 fotografi aku dah bisa”
Fotografer hanyalah mimpi siang bolong. Aku suka memotret. Tapi tak pernah menyangka itu akan menjadi pekerjaan utamaku. Rencana besarku adalah menjadi Dosen. Karena itulah aku memilih Filsafat. Dan krn itulah aku melanjutkan S2. Dulu tentor Primagama bilang kalau cita2nya jadi dosen ambil fakultas filsafat saja katanya. Menjadi dosen dan seorang wiraswasta, tampak keren sekali.
Tapi karena mungkin aku tidak terlalu menguasai materi, masih bodoh, atau memang mudah bosan, setelah setengah semestar mengajar aku merasa ‘ada yg salah’. Lalu aku bertanya2 “benarkah aku ingin menjadi dosen?” 


Dan waktu itu ada motivator yg bilang: “fokus pada satu hal, maka kamu pasti akan sukses!”
Disorientasi dg cita2 awal ku utk jadi dosen, aku termakan fatwa motifator ini. Aku berhenti dari IRB dan mencurahkan semuanya ke jualan burger. Maka dengan semangat garuda di dadaku, aku jualan burger kaki lima di emperan trotoar Mandala Krida, dan selama setahun itu, penghasilan rata2ku per hari tidak sampai setengahnya dari pengemis yg tiap hari makan opor ayam di warung nenekku.

Lewat Bawang

Jalan raya bawang sepi. jam 10malam. Istri dan ke dua anakku tertidur pulas. Mobil xenia yg kupinjam dari bapakku tidak ku pacu terlalu cepat. Aku hampir saja menabrak orang gila yg tidur di badan jalan. Jalanan sepi, tidak ada penerangan, melewati sawah dan hutan.

Ada sedikit bulan di atasku. Kanan kiriku hanyalah pohon. Dan tidak ada garis putih di aspal baru ini. Aku harus berkonsentrasi penuh. Melawan kantuk, krn tidak mungkin berhenti di tempat ini. Aku akan tidur di Sukorejo atau temanggung, pikirku. Jadi ku keraskan volume Norah Jones dan ku kunyah camilan anak2 lebih cepat.

12tahun lalu jalan ini hanyalah jalur desa yg penuh lubang dan tak terurus. Untungnya kini sudah di aspal halus dan diperlebar. Satu jempol untuk jalur alternatif pekalongan-Sukorejo ini. Benar2 sepi, hampir tidak ada kendaraan lain di belakang atau di depan kami. Satu2nya yang memanduku hanya GPS android yg sejak tadi ku pasang. Jalur pantura macet di Tulis dan Weleri, jadi kami harus memilih jalur ini. Perjalanan malam spt ini menjadi pilihan jika membawa 2 anak kecil. Mereka akan tertidur sepanjang malam. 


21okt14

Rumah

Ada sebuah rumah terapung di tengah sawah. Langit diatasnya begitu luas karena tidak ada satu pohon pun yg menghalangi. Gugusan bukit kecil membentang tak jauh dari situ, menghalangi akses menuju jalan utama. Tidak ada tetangga, hanya angin dan ular kelelahan yg sering masuk mencari tempat berlindung dari lautan sawah yg luas, atau karena kamilah satu satunya rumah yg terdampar di perairan itu. Kalau saja waktu itu aku punya kamera, sebuah tempat dimana matahari pagi selalu terlihat dan nyanyian burung hampir selalu terdengar itu, akan menjadi objek yg tak terlupakan. 

Perahu pertamaku. Terapung di pinggiran desa Piyungan, jauh dari keramain Jogja. Berlayar hanya dengan dua penumpang yang bahkan belum tau bagaimana menaikkan layar. Kami menyewanya seharga 1juta setahun. Cukup murah walau masih terlalu mahal bagiku.


Beberapa hari pertama kami masih tidur beralaskan busa tipis dan kardus. Kami tidak membeli perabot apapun. Hanya lemari kecil dan satu-dua barang tinggalan kosan lama. Kalau burger sudah mencapai target penjualan aku akan pulang sore. Tapi kalau belum, aku terpaksa pulang malam, kadang sampai larut, meninggalkan Nur sendirian terapung di tengah sawah penuh ular.

Sunat

4 september 2014
“Pak, Raka mau sunat”, kata Raka (6th) tiba2 sepulang sekolah. Aku sedikit tersenyum. Ku pikir hanya main2.
“iya kalo sunat kan nanti dapat banyak uang, raka mau beli mainan” Oh.., jadi karena itu. Rupanya dia belum tertular perasaan Horor yang menghantui tiap anak yg belum di khitan.
“oke, kapan?” tanyaku. Masih mengira pria kecil ini tidak serius.
“sekarang aja”
Aku mengerutkan kening. Dia berhasil menyita seluruh perhatianku.
“mm.. oke, kalo gitu bapak nanti hubungi Pak dokter Haris dulu ya”
“iya.. asik asik, dapat uang banyak.. hehe” Raka tersenyum lebar. Aku masih mencoba menata ulang mengikuti pola pikir pria ini.

5 September 2014
“sunatnya kapan pak?” tanya raka sudah tidak sabar.
“nanti jam 3” jawabku. Aku sedang bersiap mengambil pesanan nasi kotak di Ayam gepuk. Mereka hanya sanggup menyiapkan 300 box jam 2siang dan 150 box lagi jam 7 mlm. Mbah uti dari kebumen baru saja datang setelah subuh tadi tergesa2 dg berita tak terduga ini.
“pak ini udah jam 3” Raka mengingatkan. aku baru saja pulang dg 300 nasi bungkus.
“ayo berangkat” kataku. Dokter Haris sudah siap. Raka sudah siap. Aku belum siap. Masih kebingungan dengan segala aksesori bertetangga. Apakah harus walimahan? Pengajian? Panggung hiburan? Ah, siapa perduli, Konveksi baru saja bangkrut dan hasil memotret penuh ku gunakan utk merangkak berjualan kelapa muda. Jadi yang penting bagiku adalah Raka sendiri yg berinisiatif minta di khitan dan aku tidak boleh mengecewakannya.

Sampai dirumah dokter Haris Raka masih bisa bernyanyi2. Dia naik ke tempat tidur dan dokter menyiapkan peralatan. Ku lihat wajah berani Raka mulai berubah saat melihat suntikan dan penjepit. Tapi terlambat, 5 detik kemudian suntikan itu sudah membuatnya menjerit2 selama 15menit.
5 september; magrib
“pak kok belum ada yg kasih uang?” tanya Raka
“lho itu udah di kasih uang sama Ibu, Eyang, mbah Uti.. itu dah banyak sekali”
“tapi temen2nya Raka belum kesini..”
“lho kan belum ada yg tau kalau Raka sunat”
“Udah, tadi kan Raka dah bilang temen2nya”
“oo.. ya berarti besok hari minggu datengnya, memang uangnya mau buat beli apa?”
“tablet”

Raka masih tersenyum dengan uang di tangannya. Dia belum tau bahwa satu jam lagi biusnya akan habis. Baginya yang penting adalah sebentar lagi tablet berisi game impiannya akan terwujud. Bagiku, laki2 pemalu ini sudah berhasil melampaui satu hal; bahwa seseorang harus melakukan sesuatu yg tidak mudah untuk mendapatkan apa yg dia inginkan. Dan tenang saja sobat, kelak, aku jamin apapun mimpimu akan terwujud, asal kau mau bekerja keras untuk mendapatkannya.

Kawan

Aku tidak punya kawan.

Aku punya sahabat baik yg dari sma dan sampai sekarang menjadi sahabatku, mungkin dialah satu satunya sahabatku. Aku punya 3-5 sahabat yg masih ada di jogja dan beberapa kali aku kunjungi. Lalu setelah bertahun2 aku baru sadar, selain mereka mereka itu aku tidak pernah punya kawan lagi.

Aku sendirian disini. Hidup di lingkungan yg sangat asing. Orang2 disini seumuran bapakku. Imagine this, aku berkawan dg tetanggaku yg msh mahasiswa. Berbicara santai dg bahasa jawa ngoko kasar yg penuh cacian dan atribut porno. Dan orang tua kawanku ini, pada awalnya berbicara padaku dg bahasa jawa halus! Damn, i’m fuckin really weird Alien!
 

Tapi aku mencoba berbaur. Aku diundang ke walimahan, tahlilan atau kumpulan warga desa dan terjebak 
ditengah2 mereka, generasi Mansur S. Sial, aku tenggelam! aku ini generasi Coldplay mana mungkin bisa berkomunikasi dg generasi Mansur S.?! Tidak pernah ada pembicaraan yg nyambung. Politik, agama, sosial, musik... Aku benar2 alien yg terdampar di planet bumi distrik kertijayan.
 

Beberapa hari lalu aku baru nonton film ‘Her’, dan disitu ada pertanyaan: “are you social or anti social people?” entah apa maksudnya tapi jika disuruh menjawab rasanya aku akan menjawab: “i’m weird fuckin Anti social Alien”

sampah agamamu

Seorang pemuda 20thn baru turun dari masjid setelah sholat jumat dg khusyu sampai dahinya hitam. Membeli sebotol air putih produksi perusahaan eropa, 'danone'. Membuang botolnya begitu saja tanpa sedikitpun mencari tempat sampah.

Botol itu jatuh ke selokan dan terbawa ke sungai. Tersangkut di tanggul, hingga Setahun kemudian ada 4ribu sampah lain yg menemani botol plastik itu. Lalu tak lama hujan deras turun dan air sungai meluap. Saat luapannya mulai memasuki rumah pemuda itu, dia sholat semakin khusyu, tapi ttp membuang sampah yg sama ke selokan yg sama. 

Bahkan beberapa ada yg dibuang ke sawah. dan selama 2ratus tahun, sampah plastik itu menghambat penyuburan tanah. Pemuda itu tidak tau bahwa botol plastik yg dia buang, yg dia beli dari perusahaan yahudi eropa, terurai selama 2ratus tahun. Dan dia ttp sholat dg khusyu... (seingatku ada hadist yg mngatakan: "tidurnya orang pintar lebih baik dr pada sholatnya org bodoh")

9 okt 2010

cerita kancil vs kura kura

Kancil yang sombong bersiap hendak adu cepat dg kura kura. Perlombaan ini bukan hanya memerlukan kecepatan. Tapi juga ketahanan tubuh yang prima krn jarak 3km terhitung berat utk lomba adu cepat. Tapi hal ini bukanlah masalah bagi kancil. tubuhnya yg tangkas sudah biasa berlari menyeberangi gunung. Apalagi lawannya hanyalah kura kura yg lamban.

Kancil tidak habis pikir. Entah bagaimana kura kura lamban itu tiba2 menantangnya adu cepat. Konyol sekali. Mahluk tercepat di hutan ditantang oleh mahluk terlamban dunia.
'kau mungkin cepat di darat kancil. Tapi di air, aku mengalahkanmu..'
'hmm.. Masuk akal juga' pikir kancil.
 

Maka perlombaan pun dimulai. Kura kura di sungai. Sedangkan Kancil melalui jalan setapak di tepi sungai. Jalan ini sangat sempurna utk kancil. Tanahnya padat tanpa kerikil. Sangat cocok utknya memacu kecepatan terbaiknya.

Mereka berdua bersiap. Wasit memberikan aba aba dan dimulailah perlombaan bersejarah itu. Cerita yg dituturkan dari generasi ke generasi. Perlomban yg dimenangkan oleh kura kura itu, menjadi pelajaran moral pertama bagi anak anak kita.
 

Kancil berlari sangat cepat melebihi ferrari. Dia mengeluarkan segenap kemampuanya. Dia berusaha sangat keras memberikan yg terbaik utk lomba ini. Dia begitu fokus pada tujuannya dan berkonsentrasi penuh. Mengatur nafas. Menstabilkan gerak. Menyeimbangkan tubuhnya mengikuti angin. Tidak banyak yg tau bahwa kancil ini hewan yg sangat sportif. Pemikirannya begitu sederhana dan lurus. Ketika dia punya tujuan. Dia akan berusaha keras mencurahkan seluruh kemampuannya utk tujuan itu. Tidak berharap pada orang lain. Tidak mengandalkan bantuan org lain.

Saat ini, tidak banyak orang yg melakukan hal itu.
Ketika kancil tau kura kura sudah berada di depannya. Dia memacu larinya lebih cepat lagi. Sama sekali tidak berpikiran buruk ttg kura kura yg curang. Licik. Dan siapa yg menyangka mahluk lamban ini terorganisir dg baik. Mereka kongkalikog dg sesamanya utk berbuat curang. Curang berjamaah.
'sial..! Ternyata kura kura benar lebih cepat ketika di air' begitu pikir kancil. Dan yg dia lakukan adalah berjuang lebih keras lagi...
Sampai di garis finish dg nafas terputus putus kancil mendapati kura kura sudah disana.

'ternyata benar dia lebih cepat di air' pikir kancil sama sekali tidak curiga. Padahal tentu saja kita tau bahwa ini adalah kura kura yg berbeda. Kancil tidak menyadarinya. Sama sekali jauh dari pikiran buruk.
Kancil menyalami kura kura dan pergi.
 

Setelah kancil berlalu Kura kura tertawa lebar penuh kemenangan. Sama sekali tidak merasa bersalah. Teman2nya pun mulai naik ke permukaan dan ikut tertawa bersama sama..
Licik, curang, sangat cerdas dan terorganisir di baik. Mahluk ini pandai memanipulasi kebenaran dan mempengaruhi orang lain. sehingga dalam cerita yg kita dengar, dia tampil sebagai pahlawan yg bijaksana. Sementara sang pahlawan sendiri tampil sebagai pecundang.

Kita menceritakan ini pada anak2 kita sebagai pelajaran moral pertamanya.
Sayangnya kita lupa menyebutkan kata "licik dan curang". Kita bingung mendefinisikan "sportifitas".
Dan inilah bangsa indonesia yg adil dan beradab. Dimana si pencuri dianggap sbg org terhormat. Dan si jujur diangggap sebagai orang aneh dan disingkirkan. 


11 nov 2011

Sabtu, 11 Juli 2015

Memulai Bisnis

Katanya hanya melayani yang grosiran atau yg berpotensi jadi reseller pak, kok malah buka line baru untuk yg pembelian satuan?
--tanya Nur saat aku melayani pesanan satuan yg mulai berdatangan.
Untung cm 8ribu kalo melayani yg satuan y repot to pak. –katanya menambahkan.

Well, berharap saja ada minimal 10 pesanan setiap hari. 3 untuk admin, 3 untuk kurir, 4 untuk kita. Kalau ternyata ada 12 ya berarti kita dapat 6. Kalau ada 7 ya berarti kita dapat 1. Kalau Cuma 4 ya kita nombok 2. Ga papa nanti aku motret lagi semoga saja pengantinnya suka hasil fotoku. Atau kalau belum berhasil juga nanti ya kita rubah sistem pembagiannya supaya di lirik sama Tuhan. 4 untuk admin, 4 untuk kurir. Dan 2 untuk kita sebagai pemilik ide, oh bukan.. sebagai pengusaha, hmm.. bukan bukan, sebagai.. ---Sebagai tukang berdoa!
 

Dan tugas yang paling berat memang ada di pundak si tukang doa ini. Karena berdoa butuh strategi dan kesiapan mental. Siap untuk dikecewakan tanpa marah. Siap untuk di pukul dengan kegagalan. Atau yang paling parah... siap untuk menerima anugrah yang luar biasa banyak sampai2 kita tidak sanggup memikulnya. Dan masalah baru akan berdatangan. 

Pada siapa anugrah ini akan kita bagi? ---Karena jika kita makan melebihi apa yg bisa kita makan. Dan mengambil melebihi apa yg bisa kita bawa. Maka perut ini akan menjadi terlalu besar, dan itu sangat buruk! Aku tidak suka perut besar. Aku ingin perut six-pack. Aku tidak ingin jadi babi gendut dengan banyak makanan diperutnya. Yang aku inginkan adalah menjadi Tom Cruise yang keren, have a fit body, kecukupan.. karena semua makanan di bagikan ke perut banyak orang.
 

Yah.. maaf, tidak ada alasan lain. Bukan demi kemanusiaan, pahala, atau hati nurani. Yang seperti itu biar jadi urusan Tuhan nanti kalau aku sudah diperbolehkan masuk ke petualangan berikutnya. Ini hanya demi satu alasan konyol nan egois: kepengen punya badan bagus! Just as simple as that!
Empty your backpack everyone.

Bisnis

Bisnis yg dibayar tempo adalah bisnis yg tidak sehat. Akhirnya itulah kesimpulanku setelah banyak modalku yg tersendat hanya karena mereka tidak bisa me-manage uang dengan baik. Kalau modal itu didapat dari bank pembayaran tempo adalah strategi bisnis. Dan tidak butuh otak yg cemerlang untuk itu, hanya keberanian dan waktu yg tepat. Sayangnya aku tidak berbakat melakukan itu.

 Konveksi dan produksi batik hanya menghabiskan modal dan tenaga. Kurang berani, kurang berbakat, waktu yg tidak tepat, dan akhirnya aku berhenti. Ganti haluan menjual dg cara online. Sebuah loncatan bisnis yg luar biasa di abad ini. Internet adalah pedang yg sangat tajam dan aku sudah mulai ahli memainkannya.
Tidak butuh modal. Tidak butuh stok barang. Tidak butuh toko. Hanya menggunakan Blackberry bekas dan Android murah, aku sudah mendapatkan pesanan rata rata 5pcs sehari. Tiap pcs ambil selisih harga 10rb-25rb. Pembayaran cash dan dimuka. Dan dalam 4bulan kami sudah mendapat 3resellrer yg hampir tiap hari selalu pesan 2-3pcs. Ini luar biasa, setiap harinya followerku terus naik dan kontak di BB meningkat sangat cepat.


----
 
Saat foto sepi kawan kawan yg bekerja padaku pergi dg sendirinya. Mereka mencari pekerjaan lain yg lebih mapan. Saat foto ramai lagi aku harus mengajari orang2 baru. Memulai dari awal. Karena itu bisnis konveksi adalah strategi yg tepat waktu itu. Walau butuh modal yg lumayan dan hasil yg kudapat dari situ tidak banyak tapi yg jelas rencanaku berjalan.
Tapi setahun kemudian bisnis batik Pekalongan mengalami krisis luar biasa besar. Produksi dimana2 terhenti dan konveksi ku ikut ambruk. Penjahitku nganggur dan uang modalku tidak dibayar oleh produsen. Tidak hanya itu, daster dan kaos produksiku tidak laku dipasar karena dianggap terlalu mahal karena semua produsen menurunkan harga.
 

Entah rugi berapa, tapi sisa uang yg ada kupakai untuk membayar orang2 yg bekerja padaku. Toh pendapatanku dari memotret tidak pernah surut. Lagi pula aku bersyukur karena penjualan online justru meningkat pesat di saat konveksi bangkrut. Pada dasarnya kami tidak butuh modal atau stok barang di bisnis ini. Hanya butuh strategi pemasaran yg tepat melalui internet. Dan itu semua berjalan sangat lancar.
Hanya saja masalah lama kembali muncul; saat foto nanti ramai, bagaimana caraku mencari orang baru? Karena penjualan online sementara belum butuh karyawan. Dan kemudian Nur punya ide yg tepat; jualan es degan.
 

Saudara kandung Nur di kebumen adalah pemasok kelapa muda. Kami pikir bisa mendapat harga yg bagus dan dg berjualan degan karyawan kami tidak akan nganggur lagi. Jadi kami coba pesan satu pick-up hanya dari obrolan singkat di telefon. Pembayaran tempo, oke deal, besok dikirim.
Besoknya kelapa muda yg kami pesan benar2 datang, tapi bukan satu pick-up penuh, melainkan satu Truk full kelapa muda. Empat kali lipat dari pesanan kami semula. Rupanya kakak iparku mengira kami berniat jadi supllier kelapa muda di pekalongan. dan pembelajaran itu dimulai disini.
"saat kita menerima bahwa kita tidak mampu mengendalikan segala hal, kita akan bebas" begitu kata Irffan Khan dalam Jurrasic World

Kelapa Muda

Sebuah Mitsubishi L300 pick up melaju pelan. Aku berusaha membiasakan diri membawa mobil bermuatannya penuh 600 butir kelapa muda. Ini pertama kalinya buatku nyetir mobil yg perpindahan giginya ada tepat di bawah setir. Bermesin Diesel dan mengangkut muatan seberat hampir 3 ton. Kami mencari pengecer. Tiap bakul es kelapa muda kami datangi. Prosesnya cukup mudah, karena siapa yg tidak mau di beri barang cuma2 senilai setengah juta rupiah, tanpa harus membayar dan tanpa jaminan apapun.
Kami sudah kapok dengan masalah pembayaran tempo macam ini. Tapi kali ini berbeda. Kali ini yg memodali adalah kakak iparku. Dia mengambil uangnya dari kredit bank. Dan uang itu tidak boleh diam, harus diputar sekeras mungkin. Karena itu dia sangat bersemangat bekerja dg kami. Dia butuh modalnya yg dia pinjam dari bank ada yg menjalankan. Usahanya sendiri sudah berjalan tapi sepertinya dia meminjam terlalu banyak dari bank.


Strategi ini berjalan cukup lancar sebelum akhirnya kami menyadari bahwa ada tipe orang orang berotak udang yg tidak mampu mengatur keuangannya sendiri. Mereka tidak bisa membedakan antara laba dan modal. Dan otak udang mereka ini membuat strategi bisnis kami berantakan karena mereka tidak membayar. Penjualan berjalan dg baik. Permintaan cenderung meningkat, tapi banyak tagihan yg tidak dibayar. Tampaknya kami mengulangi kesalahan yg hampir sama. Hanya kali ini kami bukan pemilik modal dan bukan pemilik strategi. Kami hanya manager area yg mengikuti perintah dari manager utama.
Berjalan belum satu tahun dan bisnis ini sudah mulai hancur. Hampir setiap hari aku berkeliling menjadi debt collector. Mendatangi mereka para keledai berotak udang. Mareka ini bukan orang jahat, bukan penipu dan tidak memiliki niat sama sekali untuk menipu. Mereka ini hanya bodoh. Itu saja. Mereka tidak mampu mengelola uang dg baik. Dan ketika kita berhadapan dg orang2 macam ini, bersiaplah untuk ikut terseret pada kebodahan mereka. Ingat¸ KEBODOHAN ITU MENULAR.


Kakak iparku menyatakan mundur. Ada hampir 30juta dana modal yg harus kami relakan. Rasanya sayang sekali meninggalkan bisnis yg sudah berjalan dan sangat berpotensi. Aku berpikiran lain. Cara lama harus ditinggalkan. Pola pikir lama harus dirubah. Aku harus punya depot sendiri.


Menjadi supllier bagi depot orang lain yg tidak punya kemampuan mengelola modal dg baik sama saja bunuh diri. Kami memberikan modal untuk keledai yg tidak mau belajar. Maka cara itu harus ditinggalkan. Kami mulai fokus menjadi supllier bagi depot kami sendiri. Kembali mengumpulkan modal, dan mulai berlari.