Mak suji adalah teman nenek. Beliau sempat bertanya padaku waktu itu:
Mk suji: “kamu jadi pegawai di mana nak?”
Eka: “saya bukan pegawai mbah, hanya motret pengantin”
Mk suji (kaget) : “lho kok gak jadi pegawau?! Keluargamu kan semuanya
pegawai! (orang tua, pakde, bude, saudara dan sepupuku semuanya tak
terkecuali adalah PNS). Padahal enak kalau jadi pegawai terjamin
hidupnya, rumah sakit gak bayar, nanti tua bisa santai2 karena dapat
pensiun”
Eka: “tapi saya juga sama
kok mbah, meski bukan pegawai saya juga dapat pensiun kalau tua nanti,
kalau di rumah sakit saya juga gak bayar. Jaman sekarang ini beda lho
mbah, tidak seperti dulu lagi”
mak Suji bingung sambil tertawa terbatuk-batuk.
Bagi mak suji dan banyak orang seperti Mak Suji, hanya PNS-lah satu2nya
profesi yang menjamin hidup seseorang. Bahkan PNS lebih “menjamin” di
banding Tuhan sang-“penjamin” segala hal. Karena itu dana sogokan
merapa-pun akan di halal kan demi kesempatan akan keterjaminan hidup.
Sementara Tuhan hanyalah berperan sebagai solusi cadangan, kamuflase,
kambing hitam.
Inilah masa dimana yang haram dijadikan ibadah
harian, lalu semua orang bebas memanfaatkan nama besar Allah untuk
dijadikan pembenaran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar