Sabtu, 11 Juli 2015

Bisnis

Bisnis yg dibayar tempo adalah bisnis yg tidak sehat. Akhirnya itulah kesimpulanku setelah banyak modalku yg tersendat hanya karena mereka tidak bisa me-manage uang dengan baik. Kalau modal itu didapat dari bank pembayaran tempo adalah strategi bisnis. Dan tidak butuh otak yg cemerlang untuk itu, hanya keberanian dan waktu yg tepat. Sayangnya aku tidak berbakat melakukan itu.

 Konveksi dan produksi batik hanya menghabiskan modal dan tenaga. Kurang berani, kurang berbakat, waktu yg tidak tepat, dan akhirnya aku berhenti. Ganti haluan menjual dg cara online. Sebuah loncatan bisnis yg luar biasa di abad ini. Internet adalah pedang yg sangat tajam dan aku sudah mulai ahli memainkannya.
Tidak butuh modal. Tidak butuh stok barang. Tidak butuh toko. Hanya menggunakan Blackberry bekas dan Android murah, aku sudah mendapatkan pesanan rata rata 5pcs sehari. Tiap pcs ambil selisih harga 10rb-25rb. Pembayaran cash dan dimuka. Dan dalam 4bulan kami sudah mendapat 3resellrer yg hampir tiap hari selalu pesan 2-3pcs. Ini luar biasa, setiap harinya followerku terus naik dan kontak di BB meningkat sangat cepat.


----
 
Saat foto sepi kawan kawan yg bekerja padaku pergi dg sendirinya. Mereka mencari pekerjaan lain yg lebih mapan. Saat foto ramai lagi aku harus mengajari orang2 baru. Memulai dari awal. Karena itu bisnis konveksi adalah strategi yg tepat waktu itu. Walau butuh modal yg lumayan dan hasil yg kudapat dari situ tidak banyak tapi yg jelas rencanaku berjalan.
Tapi setahun kemudian bisnis batik Pekalongan mengalami krisis luar biasa besar. Produksi dimana2 terhenti dan konveksi ku ikut ambruk. Penjahitku nganggur dan uang modalku tidak dibayar oleh produsen. Tidak hanya itu, daster dan kaos produksiku tidak laku dipasar karena dianggap terlalu mahal karena semua produsen menurunkan harga.
 

Entah rugi berapa, tapi sisa uang yg ada kupakai untuk membayar orang2 yg bekerja padaku. Toh pendapatanku dari memotret tidak pernah surut. Lagi pula aku bersyukur karena penjualan online justru meningkat pesat di saat konveksi bangkrut. Pada dasarnya kami tidak butuh modal atau stok barang di bisnis ini. Hanya butuh strategi pemasaran yg tepat melalui internet. Dan itu semua berjalan sangat lancar.
Hanya saja masalah lama kembali muncul; saat foto nanti ramai, bagaimana caraku mencari orang baru? Karena penjualan online sementara belum butuh karyawan. Dan kemudian Nur punya ide yg tepat; jualan es degan.
 

Saudara kandung Nur di kebumen adalah pemasok kelapa muda. Kami pikir bisa mendapat harga yg bagus dan dg berjualan degan karyawan kami tidak akan nganggur lagi. Jadi kami coba pesan satu pick-up hanya dari obrolan singkat di telefon. Pembayaran tempo, oke deal, besok dikirim.
Besoknya kelapa muda yg kami pesan benar2 datang, tapi bukan satu pick-up penuh, melainkan satu Truk full kelapa muda. Empat kali lipat dari pesanan kami semula. Rupanya kakak iparku mengira kami berniat jadi supllier kelapa muda di pekalongan. dan pembelajaran itu dimulai disini.
"saat kita menerima bahwa kita tidak mampu mengendalikan segala hal, kita akan bebas" begitu kata Irffan Khan dalam Jurrasic World

Tidak ada komentar:

Posting Komentar