Bisnis yg dibayar tempo adalah bisnis yg tidak sehat. Akhirnya itulah
kesimpulanku setelah banyak modalku yg tersendat hanya karena mereka
tidak bisa me-manage uang dengan baik. Kalau modal itu didapat dari bank
pembayaran tempo adalah strategi bisnis. Dan tidak butuh otak yg
cemerlang untuk itu, hanya keberanian dan waktu yg tepat. Sayangnya aku
tidak berbakat melakukan itu.
Konveksi dan produksi batik hanya menghabiskan modal dan tenaga. Kurang berani, kurang berbakat,
waktu yg tidak tepat, dan akhirnya aku berhenti. Ganti haluan menjual
dg cara online. Sebuah loncatan bisnis yg luar biasa di abad ini.
Internet adalah pedang yg sangat tajam dan aku sudah mulai ahli
memainkannya.
Tidak butuh modal. Tidak butuh stok barang. Tidak
butuh toko. Hanya menggunakan Blackberry bekas dan Android murah, aku
sudah mendapatkan pesanan rata rata 5pcs sehari. Tiap pcs ambil selisih
harga 10rb-25rb. Pembayaran cash dan dimuka. Dan dalam 4bulan kami sudah
mendapat 3resellrer yg hampir tiap hari selalu pesan 2-3pcs. Ini luar
biasa, setiap harinya followerku terus naik dan kontak di BB meningkat
sangat cepat.
----
Saat foto sepi kawan kawan yg bekerja padaku pergi dg sendirinya. Mereka
mencari pekerjaan lain yg lebih mapan. Saat foto ramai lagi aku harus
mengajari orang2 baru. Memulai dari awal. Karena itu bisnis konveksi
adalah strategi yg tepat waktu itu. Walau butuh modal yg lumayan dan
hasil yg kudapat dari situ tidak banyak tapi yg jelas rencanaku
berjalan.
Tapi setahun kemudian bisnis batik Pekalongan mengalami krisis luar biasa besar. Produksi dimana2 terhenti dan konveksi
ku ikut ambruk. Penjahitku nganggur dan uang modalku tidak dibayar oleh
produsen. Tidak hanya itu, daster dan kaos produksiku tidak laku
dipasar karena dianggap terlalu mahal karena semua produsen menurunkan
harga.
Entah rugi berapa, tapi sisa uang yg ada kupakai untuk
membayar orang2 yg bekerja padaku. Toh pendapatanku dari memotret tidak
pernah surut. Lagi pula aku bersyukur karena penjualan online justru
meningkat pesat di saat konveksi bangkrut. Pada dasarnya kami tidak
butuh modal atau stok barang di bisnis ini. Hanya butuh strategi
pemasaran yg tepat melalui internet. Dan itu semua berjalan sangat
lancar.
Hanya saja masalah lama kembali muncul; saat foto nanti
ramai, bagaimana caraku mencari orang baru? Karena penjualan online
sementara belum butuh karyawan. Dan kemudian Nur punya ide yg tepat;
jualan es degan.
Saudara kandung Nur di kebumen adalah pemasok
kelapa muda. Kami pikir bisa mendapat harga yg bagus dan dg berjualan
degan karyawan kami tidak akan nganggur lagi. Jadi kami coba pesan satu
pick-up hanya dari obrolan singkat di telefon. Pembayaran tempo, oke
deal, besok dikirim.
Besoknya kelapa muda yg kami pesan benar2
datang, tapi bukan satu pick-up penuh, melainkan satu Truk full kelapa
muda. Empat kali lipat dari pesanan kami semula. Rupanya kakak iparku
mengira kami berniat jadi supllier kelapa muda di pekalongan. dan
pembelajaran itu dimulai disini.
"saat kita menerima bahwa kita
tidak mampu mengendalikan segala hal, kita akan bebas" begitu kata
Irffan Khan dalam Jurrasic World
Tidak ada komentar:
Posting Komentar