Minggu, 12 Juli 2015

PENGEMIS

“Tujuhpuluh ribu bu kaji” kata wanita itu dalam bhs jawa halus. Dia belum terlalu tua, mungkin 40thn, masih sehat dan bugar. Badannya lusuh dengan baju yg sobek2. Uang recehan dan ribuan disodorkannya utk di tukar dan nenekku memberikan selembar limapuluh ribu dan selembar duapuluh ribu. Dia memasukkanya ke tas besar yg dibawanya, sekilas kulihat ada baju yg lebih bagus di situ.
Setelah itu dia memesan nasi gulai, es teh manis dan dua gorengan tempe sekaligus. Sedikit lebih mahal dari makelar motor yg duduk disampingnya. Makelar itu berpakaian rapi tapi hanya makan nasi dg tempe dan kuah opor.

“berangkat jam berapa bu tadi?” tanyaku
“jam sepuluh mas”
“lo, kok gak pagi sekalian” tanyaku lagi sambil melihat jam, pukul 14.30
“ yo gak to mas, ramainya jam sepuluh ke atas”
Oh iya, bodohnya aku, mana ada pengemis sebelum jam 10.


Setiap jam 2-3 sore beberapa pengemis selalu menjadi langganan menukar uang di warung nenekku. Mereka beroperasi dari jam 10 pagi sampai jam 3sore. Penghasilan yg di dapat sktar 70-90rb, paling kecil masih diatas 50ribu. Hanya dalam wkt 5jam.


Tahun 2006 saat aku jualan burger di emperan Mandala Krida sehari aku dapat 20-40ribu paling bnyak. Dari jam 9pagi sampai jam 11malam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar