“Tujuhpuluh ribu bu kaji” kata wanita itu dalam bhs jawa
halus. Dia belum terlalu tua, mungkin 40thn, masih sehat dan bugar.
Badannya lusuh dengan baju yg sobek2. Uang recehan dan ribuan
disodorkannya utk di tukar dan nenekku memberikan selembar limapuluh
ribu dan selembar duapuluh ribu. Dia memasukkanya ke tas besar yg
dibawanya, sekilas kulihat ada baju yg lebih bagus di situ.
Setelah itu dia memesan nasi gulai, es teh manis dan dua gorengan tempe sekaligus. Sedikit
lebih mahal dari makelar motor yg duduk disampingnya. Makelar itu
berpakaian rapi tapi hanya makan nasi dg tempe dan kuah opor.
“berangkat jam berapa bu tadi?” tanyaku
“jam sepuluh mas”
“lo, kok gak pagi sekalian” tanyaku lagi sambil melihat jam, pukul 14.30
“ yo gak to mas, ramainya jam sepuluh ke atas”
Oh iya, bodohnya aku, mana ada pengemis sebelum jam 10.
Setiap jam 2-3 sore beberapa pengemis selalu menjadi langganan menukar
uang di warung nenekku. Mereka beroperasi dari jam 10 pagi sampai jam
3sore. Penghasilan yg di dapat sktar 70-90rb, paling kecil masih diatas
50ribu. Hanya dalam wkt 5jam.
Tahun 2006 saat aku jualan burger di
emperan Mandala Krida sehari aku dapat 20-40ribu paling bnyak. Dari jam
9pagi sampai jam 11malam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar