Masih terus mas, desa paling ujung--- kata bapak2 yg kutanya
di tengah hutan pinus. Dia satu satunya orang yg kutemui setelah memacu motor
vega ku cukup lama, sendirian di area hutan pinus membawa celurit dan seikat
besar rumput. Aku sudah melalui beberapa desa. Naik turun
diperbukitan dan jalan aspal yg sempit. Kadang aku berhenti sejenak menikmati
pemandangan yg tidak setiap hari kutemui.
Setiap kali orang ku tanya selalu bilang kalau lokasinya
masih jauh. Dan kali ini aku agak khawatir karena tidak ada lagi orang yg
kutemui, sampai aku melihat bapak itu. sendirian berjalan di hutan memikul
seikat besar rumput untuk ternaknya.
Lokasi pengantin kali ini cukup jauh. Aku sempat berfikir
suatu saat aku akan backpaking ke tempat seperti ini. Tapi segera kutepis
pikiran itu. ini adalah tahun pertamaku memotret pengantin. Jalanku masih
panjang untuk bisa melakukan segala hal yg kuinginkan. Aku bahkan belum
menyelesaikan separuh dari tanggung jawabku.
Tahun pertama selalu menjadi yg tersulit untuk segala hal. Meski
aku mulai menemukan bahwa memotret adalah bakat lahir ku. Namun tawaran yg
datang selalu membuatku harus bekerja jauh lebih keras. Lokasi yg jauh dan
terpencil. Harga yg murah. Dan apresiasi yg sangat kurang akhirnya membuatku belajar bahwa untuk menjadi
sukses, bakat saja tidak cukup.
Hal pertama yg harus dimiliki adalah sikap.
Bagaimana bersikap. Bereaksi ketika ada kesempatan yg
datang. Cara menjawab pertanyaan. Sikap tubuh. Nada bicara. Dan bagaimana selalu
bertahan pada sikap yg positif walau suasana sedang tidak menguntungkan, itulah
yg menentukan keberhasilan.
Dan mempertahankan sikap yg baik ini sangat sangat sangat
sangat sulit. Memiliki sikap yg baik, sikap yg positif, mungkin bisa dilakukan
siapapun dan ini cukup mudah. Tapi mempertahankannya adalah urusan lain. Karena
itu, aku akhirnya menyimpulkan bahwa sukses adalah kumpulan dari banyak sekali waktu yg dihabiskan untuk mempertahankan sikap
positif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar