Rabu, 15 Juli 2015

Motret Tahun Pertama



Masih terus mas, desa paling ujung--- kata bapak2 yg kutanya di tengah hutan pinus. Dia satu satunya orang yg kutemui setelah memacu motor vega ku cukup lama, sendirian di area hutan pinus membawa celurit dan seikat besar rumput.  Aku  sudah melalui beberapa desa. Naik turun diperbukitan dan jalan aspal yg sempit. Kadang aku berhenti sejenak menikmati pemandangan yg tidak setiap hari kutemui.

Setiap kali orang ku tanya selalu bilang kalau lokasinya masih jauh. Dan kali ini aku agak khawatir karena tidak ada lagi orang yg kutemui, sampai aku melihat bapak itu. sendirian berjalan di hutan memikul seikat besar rumput untuk ternaknya.

Lokasi pengantin kali ini cukup jauh. Aku sempat berfikir suatu saat aku akan backpaking ke tempat seperti ini. Tapi segera kutepis pikiran itu. ini adalah tahun pertamaku memotret pengantin. Jalanku masih panjang untuk bisa melakukan segala hal yg kuinginkan. Aku bahkan belum menyelesaikan separuh dari tanggung jawabku.

Tahun pertama selalu menjadi yg tersulit untuk segala hal. Meski aku mulai menemukan bahwa memotret adalah bakat lahir ku. Namun tawaran yg datang selalu membuatku harus bekerja jauh lebih keras. Lokasi yg jauh dan terpencil. Harga yg murah. Dan apresiasi yg sangat kurang  akhirnya membuatku belajar bahwa untuk menjadi sukses, bakat saja tidak cukup.
Hal pertama yg harus dimiliki adalah  sikap.

Bagaimana bersikap. Bereaksi ketika ada kesempatan yg datang. Cara menjawab pertanyaan. Sikap tubuh. Nada bicara. Dan bagaimana selalu bertahan pada sikap yg positif walau suasana sedang tidak menguntungkan, itulah yg menentukan keberhasilan.

Dan mempertahankan sikap yg baik ini sangat sangat sangat sangat sulit. Memiliki sikap yg baik, sikap yg positif, mungkin bisa dilakukan siapapun dan ini cukup mudah. Tapi mempertahankannya adalah urusan lain. Karena itu, aku akhirnya menyimpulkan bahwa sukses adalah kumpulan dari banyak sekali  waktu yg dihabiskan untuk mempertahankan sikap positif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar