Minggu, 12 Juli 2015

Rumah

Ada sebuah rumah terapung di tengah sawah. Langit diatasnya begitu luas karena tidak ada satu pohon pun yg menghalangi. Gugusan bukit kecil membentang tak jauh dari situ, menghalangi akses menuju jalan utama. Tidak ada tetangga, hanya angin dan ular kelelahan yg sering masuk mencari tempat berlindung dari lautan sawah yg luas, atau karena kamilah satu satunya rumah yg terdampar di perairan itu. Kalau saja waktu itu aku punya kamera, sebuah tempat dimana matahari pagi selalu terlihat dan nyanyian burung hampir selalu terdengar itu, akan menjadi objek yg tak terlupakan. 

Perahu pertamaku. Terapung di pinggiran desa Piyungan, jauh dari keramain Jogja. Berlayar hanya dengan dua penumpang yang bahkan belum tau bagaimana menaikkan layar. Kami menyewanya seharga 1juta setahun. Cukup murah walau masih terlalu mahal bagiku.


Beberapa hari pertama kami masih tidur beralaskan busa tipis dan kardus. Kami tidak membeli perabot apapun. Hanya lemari kecil dan satu-dua barang tinggalan kosan lama. Kalau burger sudah mencapai target penjualan aku akan pulang sore. Tapi kalau belum, aku terpaksa pulang malam, kadang sampai larut, meninggalkan Nur sendirian terapung di tengah sawah penuh ular.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar