Dulu kenapa ya, Burger tidak laris? Aku berjualan burger tahun 2007 di 2
tempat di Jogja. Tidak laris jadi selalu berpindah pindah. Mungkin ada
3-4kali berpindah. Tapi kenapa ya bisa tidak laris..?
Pertanyaan itu
sempat menggangguku cukup lama, sampai aku menyadari bahwa jarang
sekali ada burger kali lima yang laris. Usaha berjualan burger kaki lima
yang kulihat ‘cukup’ diminati pembeli hanya yang berada di tempat
dengan sewa booth sangat mahal. Ditambah tampilan stand yang harus menarik dan itu menjadikannya sangat mahal.
Sampai sekarang ini, ada berapa ya usaha burger kaki lima yang
bertahan? Berapa lama mereka bertahan? Sampai sekarang aku selalu
bertanya tanya kapan sebuah bisnis layak untuk dipertahankan atau sudah
saatnya ditinggalkan. Paling enak memang menjadi pegawai dan karyawan.
Tinggal ikuti atasan sambil pasang wajah sumringah, maka hidup akan
terjamin.
Aku sejak kecil juga selalu berpikir untuk menjadi
pegawai. Aku berdoa agar menjadi seorang yang cakap, pintar, selalu
menurut pada atasan dan jadi orang kepercayaan. Aku sebagai anak
sekolahan yang kadang berprestasi memimpikan memakai sepatu bagus,
kemeja mahal, kendaraan dinas yang dibiayai rakyat yang bisa kubawa
kemana mana dan kupamerkan sesukaku. Yang kalau rusak tidak perlu
memusingkan biaya perbaikan. Aku becita cita punya kantor yang sangat
besar. Berangkat pagi pulang siang. Santai di rumah. Santai di kantor.
Hmm.. impian yang mahal.
Tapi ternyata aku tidak menjadi seperti
itu. Setelah masa kanak2ku berakhir aku malah diberikan pemikiran yang
aneh oleh sang pencipta. Pemikiran yang menyebalkan. Yang membuatku
sebal luar biasa kalau melihat berita berita di TV. Yang membuatku
merasa sangat heran ketika orang orang berpikir bahwa sang jenderal
begitu terhormat sedangan aku justru memandangnya sangat rendah.
Hidup dengan pemikiran seperti ini, di masa ini, di negara ini benar benar sangat mengganggu.
ketikan tanggal 29 jan 2014 jam 00:23
Tidak ada komentar:
Posting Komentar