Minggu, 12 Juli 2015

MEJA (based on true story)

Sebuah meja terlempar menghantam jendela kayu. Suaranya menggema keras mengagetkan seluruh murid dan guru SDN.barabara. Dari dalam ruangan kepsek terdengar dua orang saling menggertak. Ini adalah kejadian paling hebat yang pernah terjadi di sdn.barabara. Disaat seorang guru SD biasa memberanikan diri melawan atasannya, sang tikus raksasa yang punya seribu teman di pemerintahan.

----

Pak kuntul akhirnya berhasil menjadi kepala sekolah di sdn barabara kec. alaskerto. Laki laki hitam gendut ini meski tampangnya mirip tikus got ternyata moralnya jauh lebih rendah dari tikus got, walau dia sangat lihai kongkalikong dg atasannya. Otaknya yg encer di padu dengan mental tikusnya berhasil membawa semua proyek dinas pendidikan masuk ke sekolah yang di pimpimnya. Tapi tentusaja, namanya juga tikus, dia langsung memanipulasi anggaran. Sebut saja cat tembok yang seharusnya ber merk “eksekutif” di ganti jadi merk “madeincina”. Selisih harga yg sangat besar di kali ratusan kaleng masuk tanpa sisa ke perut buncit pak kuntul.

Tidak ada yang berani bicara. Semua guru diam takut pada pak kuntul. Mereka takut kehilangan penghasilan dan kemapanannya. Karena bagi mereka hanya pada pak kuntul lah mereka menyandarkan nasibnya. Pak kuntul lah yang tiap bulan memberi mereka gaji dan beras. Jadi mereka rajin beribadah pada pak kuntul, dengan cara tersenyum manis padanya. Ini dilakukan rutin setiap hari. Minimal 5kali sehari.
Nah anehnya mereka juga beribadah dengan cara lain. Pada Tuhan lain. Ini dilakukan minimal 5kali sehari juga. Kadang ditambah tengah malam atau jam 9pagi. Mereka bilang yang ini juga harus dilakukan karena semua orang juga melakukannya. Jadi ya terpaksa ikut ikutan supaya terlihat normal. Herannya, mereka menolak jika disebut manyembah dua Tuhan.

Keadaan normal dan damai ini membuat pak kuntul semakin berani memainkan keahliannya. Dia ambil semua yang tampak di depan hidungnya meski perutnya sudah terlalu penuh. Tradisi masyarakat beragama ini semakin memuluskan jalan menelan segalanya tanpa halangan sedikitpun.
Hanya saja, ada satu ganjalan kecil.. Satu orang. Bukan siapa-siapa. Hanya seorang guru biasa yang tetap berdiri ditempatnya. Guru ini tidak berbuat, tetapi tidak juga berlutut. Dia hanya memandang lurus kearah pak kuntul tanpa sedikitpun mau menundukkan kepala.

----

“BRAAKKK.....!!”
Pak kuntul menggebrak meja dengan keras. Mencoba mengintimidasi pria di depannya. Sejak awal pak kuntul memang tidak pernah suka dengan pria ini. Satu satunya yang tidak pernah mau tunduk padanya. Saat semua guru patuh dan taat, hanya satu orang ini yang tidak mau menyerahkan nasibnya pada pak kuntul. Bodoh sekali dia ini. Padahal segala ujian berat sudah diberikan oleh pak kuntul, seperti tingkat golongan yang tidak pernah dinaikkan padahal sudah 25tahun masa kerja, atau pengajuan pinjaman yang tidak di tandatangani padalah belum pernah mengajukan pinjaman. Tapi pria ini dengan santainya tetap memilih menjadi bodoh dan menolak untuk ikut-ikutan bartindak ‘pintar’.

Dan tiba tiba siang itu di musim hujan akhir tahun, Pak kuntul yang sudah geram sejak lama jadi meluap amarahnya, ketika si guru tidak taat menanyakan dana bantuan guru yang turun bulan lalu. Sebelumnya tidak pernah ada yang berani protes ketika sang kepsek berkali kali memotong dana bantuan.

“ANDA PIKIR ANDA INI SIAPA...?!! APA ANDA TIDAK SADAR SIAPA SAYA, HAH.. !?!” bentak pak kultul sembari menggebrak meja. Tidak ada yang pernah berani melawan tikus raksasa. Kata katanya adalah sabda bagi pada bawahannya, apalagi bentakannya, pasti dijamin akan membuat semua orang terkencing kencing.

“tidak perlu menggebrak meja begitu, pak” kata si guru dengan santai. “bu wilma bendahara meminta saya untuk menanyakan hal ini pada bapak, karena teman teman guru mengira bu wilma yang pegang dana itu, dan dia tidak berani bertanya sendiri pada bapak. “ tambah nya.

“.......!!!” pak kuntul marah bukan kepalang. Tidak pernah ada yang bertanya secara langsung seperti ini. Apalagi si bodoh ini bertanya dengan santainya tanpa beban.
“maaf lho pak, saya tidak bermaksud mencampuri urusan antara bapak dengan bu wilma, tapi sudah sejak seminggu lalu sebenarnya bu wilma memohon pada saya supaya menanyakan hal ini..” tambah guru itu lagi.
BRAAAKKKKK...!!! pak kuntul berdiri dan menggebrak meja lebih keras.

“LALU SEKARANG KAMU MAU APAA...HAAHHH!!!!” semprotnya sambil mengarahkan telunjuk ke muka si guru.

Tiba tiba air muka guru ini berubah. Tanpa menunjukkan ketakutan sedikitpun dia ikut berdiri dan mendekatkan wajahnya ke pak kuntul.
“saya sudah bilang bapak tidak perlu menggebrak meja seperti itu pak.” Katanya. Nada sopan si guru sudah hilang. “kalau ingin membuat saya takut, HARUSNYA BAPAK MELAKUKAN INI...!!” katanya sambil melempar meja pak kuntul hingga terbalik.

Sang kepala sekolah tidak menduga hal ini. Tanpa di sadari dia sudah gemetaran. Pria dihadapannya yang sedari tadi selalu bersuara rendah ini membentak dan membuatnya terkencing kencing. Nyali pak kuntul menciut, tak pernah menduga akan menghadapi hal seperti ini. Dia hanya melonggo gemetaran.
Untuk sesaat, tikus raksasa ini mengkerut menjadi tikus got

------

Seorang bapak menceritakan pengalamannya hampir adu jotos dengan kepala sekolah pada anaknya. Sang anak yang baru masuk SMP mendengarkan dengan tertawa tawa. Tanpa disadari cerita kecil ini mempengaruhi pemahamannya di tahun tahun berikutnya. Pemahaman yang membuatnya dianggap aneh oleh masyarakat disekitarnya.

Pada akhirnya sang kepsek memang membuat si bapak dikucilkan selama bertahun tahun oleh teman temannya. Dianggap kambing congek, tidak nyaman, akhirnya tidak pernah berangkat dan memutuskan melepas status PNS-nya tanpa pensiun. Semua kerabat menyayangkan hal itu, tapi si bapak justru seolah merasa terbebas dari belenggu yang selama ini mencengkramnya.

(tulisan bln feb 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar