Sabtu, 11 Juli 2015

Kelapa Muda

Sebuah Mitsubishi L300 pick up melaju pelan. Aku berusaha membiasakan diri membawa mobil bermuatannya penuh 600 butir kelapa muda. Ini pertama kalinya buatku nyetir mobil yg perpindahan giginya ada tepat di bawah setir. Bermesin Diesel dan mengangkut muatan seberat hampir 3 ton. Kami mencari pengecer. Tiap bakul es kelapa muda kami datangi. Prosesnya cukup mudah, karena siapa yg tidak mau di beri barang cuma2 senilai setengah juta rupiah, tanpa harus membayar dan tanpa jaminan apapun.
Kami sudah kapok dengan masalah pembayaran tempo macam ini. Tapi kali ini berbeda. Kali ini yg memodali adalah kakak iparku. Dia mengambil uangnya dari kredit bank. Dan uang itu tidak boleh diam, harus diputar sekeras mungkin. Karena itu dia sangat bersemangat bekerja dg kami. Dia butuh modalnya yg dia pinjam dari bank ada yg menjalankan. Usahanya sendiri sudah berjalan tapi sepertinya dia meminjam terlalu banyak dari bank.


Strategi ini berjalan cukup lancar sebelum akhirnya kami menyadari bahwa ada tipe orang orang berotak udang yg tidak mampu mengatur keuangannya sendiri. Mereka tidak bisa membedakan antara laba dan modal. Dan otak udang mereka ini membuat strategi bisnis kami berantakan karena mereka tidak membayar. Penjualan berjalan dg baik. Permintaan cenderung meningkat, tapi banyak tagihan yg tidak dibayar. Tampaknya kami mengulangi kesalahan yg hampir sama. Hanya kali ini kami bukan pemilik modal dan bukan pemilik strategi. Kami hanya manager area yg mengikuti perintah dari manager utama.
Berjalan belum satu tahun dan bisnis ini sudah mulai hancur. Hampir setiap hari aku berkeliling menjadi debt collector. Mendatangi mereka para keledai berotak udang. Mareka ini bukan orang jahat, bukan penipu dan tidak memiliki niat sama sekali untuk menipu. Mereka ini hanya bodoh. Itu saja. Mereka tidak mampu mengelola uang dg baik. Dan ketika kita berhadapan dg orang2 macam ini, bersiaplah untuk ikut terseret pada kebodahan mereka. Ingat¸ KEBODOHAN ITU MENULAR.


Kakak iparku menyatakan mundur. Ada hampir 30juta dana modal yg harus kami relakan. Rasanya sayang sekali meninggalkan bisnis yg sudah berjalan dan sangat berpotensi. Aku berpikiran lain. Cara lama harus ditinggalkan. Pola pikir lama harus dirubah. Aku harus punya depot sendiri.


Menjadi supllier bagi depot orang lain yg tidak punya kemampuan mengelola modal dg baik sama saja bunuh diri. Kami memberikan modal untuk keledai yg tidak mau belajar. Maka cara itu harus ditinggalkan. Kami mulai fokus menjadi supllier bagi depot kami sendiri. Kembali mengumpulkan modal, dan mulai berlari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar