Sebuah Mitsubishi L300 pick up melaju pelan. Aku berusaha membiasakan
diri membawa mobil bermuatannya penuh 600 butir kelapa muda. Ini pertama
kalinya buatku nyetir mobil yg perpindahan giginya ada tepat di bawah
setir. Bermesin Diesel dan mengangkut muatan seberat hampir 3 ton. Kami
mencari pengecer. Tiap bakul es kelapa muda kami datangi. Prosesnya
cukup mudah, karena siapa yg tidak mau di beri barang cuma2 senilai
setengah juta rupiah, tanpa harus membayar dan tanpa jaminan apapun.
Kami sudah kapok dengan masalah pembayaran tempo macam ini. Tapi kali
ini berbeda. Kali ini yg memodali adalah kakak iparku. Dia mengambil
uangnya dari kredit bank. Dan uang itu tidak boleh diam, harus diputar
sekeras mungkin. Karena itu dia sangat bersemangat bekerja dg kami. Dia
butuh modalnya yg dia pinjam dari bank ada yg menjalankan. Usahanya
sendiri sudah berjalan tapi sepertinya dia meminjam terlalu banyak dari
bank.
Strategi ini berjalan cukup lancar sebelum akhirnya kami
menyadari bahwa ada tipe orang orang berotak udang yg tidak mampu
mengatur keuangannya sendiri. Mereka tidak bisa membedakan antara laba
dan modal. Dan otak udang mereka ini membuat strategi bisnis kami
berantakan karena mereka tidak membayar. Penjualan berjalan dg baik.
Permintaan cenderung meningkat, tapi banyak tagihan yg tidak dibayar.
Tampaknya kami mengulangi kesalahan yg hampir sama. Hanya kali ini kami
bukan pemilik modal dan bukan pemilik strategi. Kami hanya manager area
yg mengikuti perintah dari manager utama.
Berjalan belum satu tahun
dan bisnis ini sudah mulai hancur. Hampir setiap hari aku berkeliling
menjadi debt collector. Mendatangi mereka para keledai berotak udang.
Mareka ini bukan orang jahat, bukan penipu dan tidak memiliki niat sama
sekali untuk menipu. Mereka ini hanya bodoh. Itu saja. Mereka tidak
mampu mengelola uang dg baik. Dan ketika kita berhadapan dg orang2 macam
ini, bersiaplah untuk ikut terseret pada kebodahan mereka. Ingat¸
KEBODOHAN ITU MENULAR.
Kakak iparku menyatakan mundur. Ada hampir
30juta dana modal yg harus kami relakan. Rasanya sayang sekali
meninggalkan bisnis yg sudah berjalan dan sangat berpotensi. Aku
berpikiran lain. Cara lama harus ditinggalkan. Pola pikir lama harus
dirubah. Aku harus punya depot sendiri.
Menjadi supllier bagi depot
orang lain yg tidak punya kemampuan mengelola modal dg baik sama saja
bunuh diri. Kami memberikan modal untuk keledai yg tidak mau belajar.
Maka cara itu harus ditinggalkan. Kami mulai fokus menjadi supllier bagi
depot kami sendiri. Kembali mengumpulkan modal, dan mulai berlari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar