Minggu, 15 Desember 2013

Bapak


Saat itu aku SMA. “bapak tidak berangkat lagi” kata ibuku. Bapak sibuk menciptakan program lagu baru dan mulai jarang berangkat mengajar. Ini sudah terjadi cukup lama. Puncaknya adalah ketika Bapak bersitegang hebat dengan kepala sekolahnya. Bapak ku adalah satu2nya yang berani melawan si Buaya sementara yang lain memilih untuk menjilatinya.  Orang yang terlalu risih melihat korupsi didepan mata dan satu2nya yang berani berbicara kebenaran. Karena itulah dia disingkirkan.
Bapak adalah PNS guru agama SD, tapi juga seorang seniman sejati. Bakatnya yang luar biasa dibidang musik, seni lukis dan fotografi mungkin adalah yang terbaik dipekalongan. Sejak aku masih belum lahir, dia adalah seorang penyiar radio. Sekitar tahun 85-an dia menjadi yang teratas di pekalongan. RCS, radio tempatnya bekerja mempercayakan semua program siaran pada kreativitasnya. Dia sendiri punya program favorit dan paling menguntungkan saat itu yang bahkan di puji sampai tingkat Jawa Tengah. Di program itu dia memainkan dua karakter berbeda yang membawakan obrolan2 ringan.
Dipuncak suksesnya bapak bosan dengan karirnya dan mulai beralih kegiatan. Saat itu sampai si owner RCS sendiri yang memohon berkali2 pada nya untuk tetap tinggal. Menawarkan bayaran berkali lipat dan jam kerja yang jauh lebih fleksibel. Tapi, bapak tetap menolak.
Lepas dari RCS, aku tidak ingat tahun berapa saat itu tapi mulai terkenal lagi dengan membawakan spot iklan untuk bioskop2 di seputar pekalongan. Seingatku bahkan semua bioskop di Tegal-Pemalang-Pekalongan-Batang adalah langganan bapak bertahun2. Aku selalu mengingat masa2 itu karena au sering sekali mendapat tiket gratis, terutama di Athrium Theater 21. Selain itu, bapak juga mulai memotret.
Mungkin saat itu aku masih SD atau SMP. Bapak mulai iseng memotret. Lalu dalam waktu singkat dia mendapat banyak job untuk pernikahan. Aku sering diajak motret dan disuruh mencetak film di laboratorium cetak. Di lab itu aku bertemu dengan banyak fotografer senior dan di situ aku menyadari bahwa hasil foto bapak berbeda. Bapak adalah pemain baru, tetapi hasil karyanya selalu menjadi perhatian fotografer lain. Tiap kali foto bapak keluar dari mesin cetak selalu saja jadi pusat perhatian, dilihat oleh banyak orang. Setelah memotret sendiri, sekarang aku baru mengerti betul kenapa dulu foto bapak begitu menjadi perhatian. Teknik pencahayaan bapak, bahkan sampai sekarang, masih sepuluh kali lebih maju dibanding kebanyakan fotografer pekalongan.
Hasil foto yang tiada bandingan membuatnya menjadi rebutan rias pengantin. Order foto datang begitu banyak sampai membuatnya sangat kewalahan. Lalu di puncak karirnya lagi, bapak mulai bosan dan memilih berganti profesi. Seniman tetaplah seniman, dan aku memaklumi itu karena aku juga merasakannya sekarang.
Dulu saat muda bapakku pernah menjadi penyanyi solo gitar terbaik se-Jateng di semacam acara ajang penyanyi lokal. Mungkin musik kembali menggelitiknya untuk bermail, jadi bapak membeli Roland EM 2000 dan mulai memprogram lagu. Dia mulai tertarik dg profesi sebagai player organ tunggal. Dan benar juga, tidak lama job musik mulai berdatangan dan membuatnya sibuk. Dia adalah tipe musisi yang perfeksionis walau dalam bisnis lokal di pekalongan ini hal itu tidak lah penting.
Sampai akhirnya, musik itulah yang dijadikannya alasan. Jawaban yang paling dapat diterima oleh orang2 disekitarnya. Keluar dari PNS karena musik, terasa lebih masuk akal, dari pada menceritakan masalah2 sepele seperti ibadah rutin korupsi berjamaah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar